Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Setiap Tahun Warga Tiga Gili Gelar Tradisi Rebo Bontong


Bagi masyarakat Pulau Lombok, tak terkecuali warga Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, tradisi Rebo Bontong, atau ritual mandi di pantai pada hari Rabu terakhir bulan Sapar (kalender Islam), untuk memohon keselamatan kepada Tuhan, dan dijauhkan dari segala bencana, maupun penyakit, bukan hal yang asing lagi.

Kamis, 10 November 2011

Ritual Kelahiran Anak Warga Lombok

Dalam kehidupan manusia di Pulau Lombok, dikenal berbagai macam upacara yang bersifat ritual adat, seperti peristiwa kelahiran anak, sunatan, perkawinan, kematian, dan lainnya. Dan adat istiadat yang diwariskan oleh leluhur secara turun temurun itu, hingga kini masih tetap lestari, dan terus dipertahankan.

Sabtu, 05 November 2011

Rebang Alung, Sanksi Bagi Pelanggar Hukum Adat

Adat istiadat, merupakan perilaku masyarakat suatu daerah yang terbentuk karena akhlak, dan budi pekerti yang baik. Dimana kebiasaan, atau tradisi yang baik tersebut, setelah disepakati masyarakat, kemudian ditetapkan menjadi hukum adat, yang kehadirannya sangat dipatuhi oleh masyarakat.
“Di Indonesia, hukum adat ini juga masuk sebagai hukum positif. Bahkan keberadaannya bisa menjadi solusi, dan melengkapi hukum secara nasional yang memang belum lengkap mengatur segala aspek kehidupan manusia,” ujar Bupati Lombok Utara, Drs Ridwan Hidayat.

Nyunatang, Lestarikan Adat Sekaligus Kewajiban Ummat Islam

Masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, dalam kehidupan sehari – hari selain dikenal sebagai masyarakat yang agamis, juga dikenal memegang teguh adat istiadat. Seperti proses kelahiran seorang anak di Pulau Lombok, biasanya juga akan disertai dengan berbagai macam tradisi, salah satunya adalah Nyunatang, atau khitanan.

Tradisi Bisoq Beras, Cermin Gotong Royong Masyarakat Lombok

Tradisi Bisoq Beras, atau mencuci beras di mata air, atau sungai dalam pelaksanaan begawe (acara) masyarakat di pulau Lombok, seperti perkawinan, sunatan, syukuran, dan lainnya, merupakan cermin budaya gotong royong yang sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Acara ini, biasanya dilakukan para remaja, dengan diiringi gamelan Gendang Beleq, dimana tradisi ini biasanya juga dilakukan pada malam hari, yakni sekitar pukul 20.00 Wita atau 21.00 Wita.

Tradisi Lebaran Adat di Masjid Kuno Bayan Beleq

Hari Raya Idul Fitri bagi umat Muslim seluruh dunia, menjadi hari raya kemenangan dan sebagai wujud rasa syukur kepada Alloh SWT, setelah sebulan lamanya menunaikan ibadah puasa, serta menahan diri dari semua hawa nafsu.
Namun ada sedikit yang berbeda dengan perayaan Idul Fitri yang dilakukan oleh masyarakat Desa Bayan), Lombok Utara. Selain mereka ikut merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal, sebagaimana umumnya umat Islam. Ternyata mereka juga menyelenggarakan perayaan Lebaran Adat Tinggi yang dipusatkan di Masjid kuno Bayan Beleq, yang dilakukan tiga hari setelah Idul Fitri.

Jumat, 04 November 2011

Rowah Adat Makam Peraba

Salah satu bentuk pelestarian tradisi leluhur paling menonjol yang dilakukan oleh komunitas adat Makam Peraba di Dusun Punikan, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, yakni pelaksanaan Rowah Adat Makam Peraba yang digelar warga setiap tahun untuk menyambut tahun baru Islam, 1 Muharram.
Menurut ketua pelaksana Rowah Adat Makam Peraba, Syaiful Karyadi, upacara adat ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Tuhan yang telah memberikan hasil bumi berlimpah, untuk menghidupi mereka sepanjang tahun.

Tradisi Nyiuang, Bukti Kecintaan Anak Cucu Kepada Leluhur

Dalam kehidupan masyarakat di Lombok Utara, banyak sekali bentuk tradisi yang hingga kini masih tetap lestari. Namun secara keseluruhan, tradisi kehidupan itu bisa dikelompokkan dalam dua bagian, yakni Gawe Urip, sebuah tradisi yang dilaksanakan semasa hidup, seperti upacara kelahiran, khitanan, perkawinan, dan lainnya.
Sedangkan kelompok kedua, dikenal dengan Gawe Ala, diperuntukkan bagi para leluhur yang telah meninggal dunia, diantara rangkaian acaranya yaitu Mendelung (3 hari), Memitu (7 hari), Nyiwa` (9 hari), Metangpuluh (40 hari), Nyatus (100 hari) dan Nyiuang (1000 hari).

Tradisi Lebaran Topat, Puncak dari Puasa Syawal

Bagi ummat muslim sedunia, sehari setelah hari raya Idul Fitri (sebelumnya selama sebulan menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan), adalah waktu dimulainya puasa sunat bulan Syawal yang berlangsung selama enam hari.
Hal itu juga dilakukan oleh ummat muslim di Kabupaten Lombok Barat, mereka tak ketinggalan untuk berpuasa Syawal, karena menurut keyakinan dalam Agama Islam, melakukan ibadah puasa selama enam hari tersebut pahalanya berlipat ganda. Dan sebagai puncak dari penutupan puasa bulan Syawal itu, yakni pada hari ke-7, warga Lombok Barat juga merayakan secara besar – besaran perayaan Lebaran Topat (Ketupat).

Kesenian Gegeruk Tandak

Meskipun secara kewilayahan, Lombok Utara merupakan kabupaten termuda di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), namun siapapun pasti maklum, bahwa daerah ini merupakan tempat peradaban tertua di Pulau Lombok.
Keberadaan berbagai kesenian atau tradisi yang begitu mengakar di masyarakat, serta dilandasi dengan pondasi keagamaan warganya yang kuat, membuat Kabupaten Lombok Utara banyak menyimpan kekayaan kultur dan budaya yang bahkan masih belum banyak dikenal publik.

The Rocking Boys From Mataram

Awal tahun 2000 silam, di Yogyakarta musik beraliran Pop ala Jikustik dan Sheila On 7 memang sedang naik daun. Terlebih Sheila On 7, sebuah Band lokal Yogyakarta yang mengawali berkuasanya industri rekaman mainstreem (major label-red), bisa mengatur selera musik masyarakat. Akibatnya, demam Sheila-pun terasa dimana-mana.
Kehadiran Grup Band “Tomstone” di berbagai ajang musik di Yogyakarta dengan mengusung lagu-lagu ala The Roling Stones, Bob Dylon, BB King, Aerosmith dan lainnya, menjadi sangat antik dan aneh. Keberadaan Tomstone yang keseluruhan personelnya adalah mahasiswa asal Mataram yang sedang menempuh kuliah di Yogyakarta tersebut, seperti hendak melawan arus.

Kesenian Suling Dewa, Pemanggil Hujan

Di masa lampau ketika musim kemarau berkepanjangan, masyarakat Lombok Utara, khususnya di wilayah Kecamatan Bayan, memiliki tradisi dan ritual unik untuk mendatangkan hujan, mereka memainkan kesenian Suling Dewa.
Biasanya, kesenian ini dilakukan oleh pemimpin adat bersama-sama dengan warga dusun, lengkap dengan pakaian tradisional, melakukan ritual mohon hujan.

Tradisi Nyongkolan, Pengumuman Pengantin Resmi Menikah

Satu lagi tradisi khas Suku Sasak-Lombok yang penuh dengan kearifan budaya lokal, serta memiliki makna lebih luas sebagai sarana untuk menjalin tali silaturahmi antar masyarakat, yakni Tradisi Nyongkolan.
Nyongkolan sendiri, adalah sebuah prosesi yang dilakukan oleh sepasang pengantin usai melaksanakan upacara perkawinan. Dengan mengenakan busana adat yang khas, keluarga pengantin laki-laki, juga ditemani oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, beserta sanak saudara, mereka berjalan keliling desa menuju kediaman keluarga pengantin perempuan untuk berkunjung.

Minggu, 01 Agustus 2010

Jasyadi, The Master of Gendang Beleq 2010

Membakukan waktu terlama menabuh Gendang Beleq selama 2 jam 45 menit, Jasyadi, salah seorang Sekehe (penabuh) Kesenian Gendang Beleq Dewi Anjani, Lombok Utara, dinobatkan sebagai “The Master of Gendang Beleq 2010”.

Jumat, 16 Juli 2010

Lombok Blues Community Gelar Bluest Night 2010

Setelah lama di tunggu-tunggu, kembali para pecinta musik blues di Pulau Lombok disuguhi event Blues Night 2010 yang digelar Lombok Blues Community, Jumat 16 Juli 2010.
Event tahunan ini di gelar di Cristal Café mulai pukul 20.30 Wita sampai pukul 01.30 Wita dini hari. Dimana selama kurang lebih 5 jam, para penikmat musik blues disuguhi dengan berbagai kemasan musik blues yang kental.

Selasa, 15 Desember 2009

Pemkot Mataram Gelar Festival Musik Gula Gending dan Cilokaq

Melestarikan aneka kesenian tradisional yang ada di pulau Lombok, khususnya di Mataram, Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Mataram, selama dua hari, Rabu (15/12/09) hingga Kamis (16/12/09) menggelar Festival Musik Gula Gending dan Cilokaq.

Selasa, 08 Desember 2009

Festival of India Digelar di Mataram

Selain Negeri China, barangkali bangsa India adalah salah satu bangsa pengembara yang penyebarannya begitu merata di seluruh dunia. Demikian pula di pulau Lombok, hampir seluruh sudut wilayah ini ada saja warga keturunan India.