Selasa, 06 Desember 2011

Gunung Pengsong, Bukan Wisata Biasa

Obyek wisata Gunung Pengsong di Kabupaten Lombok Barat, bisa dibilang bukan tempat wisata biasa. Ada banyak hal yang bisa dinikmati pengunjung di tempat ini. Selain suasana alam, serta panoramanya yang indah dan masih asri, obyek wisata ini juga kaya dengan nilai sejarah dan budaya.

Yang paling menarik, berada di puncak Gunung Pengsong ini, pengunjung dapat melihat dan menikmati panorama indah ke berbagai arah. Di puncak ini pula, terdapat sebuah tempat peribadatan umat Hindu, Pura Gunung Pangsung, yang konon merupakan Pura pertama dan tertua di Pulau Lombok.
Gunung Pengsong terletak di Desa Kuripan, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer ke arah Selatan dari Bandara Selaparang, Kota Mataram.
Kawasan seluas lebih dari 11 hektare yang ditetapkan sebagai salah satu obyek wisata sejak tahun 1996 ini, ibarat miniatur hutan, karena di tempat ini banyak terdapat jenis pohon rindang, mulai albasia hingga beringin berusia ratusan tahun. Habitat kawanan kera coklat keabu-abuan juga ada di sini, dengan segala tingkah laku mereka yang menggoda pengunjung untuk datang.
”Senang sekali melihat monyet-monyet ini berebut makanan, lucu,” kata Hariyadi, wisatawan domestik dari Surabaya, Jawa Timur.
Heriyadi bersama istri dan tiga anaknya menghabiskan waktu empat hari berlibur ke Pulau Lombok. Gunung Pengsong menjadi salah satu tujuan wisatanya, selain pantai Senggigi yang sudah terkenal, dan sentra kain tenun di Sukarara, Lombok Tengah.
Biasanya, kalau ada pengungjung datang, ratusan ekor monyet langsung menyambut dan mengelilingi mereka ketika tiba di pelataran depan kawasan Gunung Pengsong. Monyet-monyet ini menanti diberi kacang atau jajanan yang dibawa.
Tingkah mereka menggelitik, ada yang berebutan makanan dan kejar-kejaran, ada yang hanya berani menanti di kejauhan. Mulai dari pejantan besar, hingga monyet betina yang mengendong bayinya.
Monyet-monyet ini juga akan selalu mengikuti pengunjung yang hendak mendaki puncak Gunung Pengsong, sepanjang perjalanan.
Namun karena kawasan obyek wisata ini merupakan tempat suci bagi umat Hindu, dan masih digunakan sebagai tempat beribadah, maka pengunjung yang datang juga harus taat dengan peraturan yang ada. Misalnya pengunjung akan diberi kain selendang berwarna kuning untuk diikat di pinggang sebelum masuk ke kawasan. Selain itu, kaum perempuan yang sedang menstruasi juga dilarang masuk ke kawasan ini.
Teduh dan sejuk, adalah kesan pertama ketika masuk ke kawasan wisata Gunung Pengsong. Beragam jenis pohon tumbuh rindang, beberapa diantaranya beringin berusia ratusan tahun dengan akar-akar gantung yang tebal.
Ada mata air yang bisa dijumpai sebelum mulai mendaki. Lokasi mata air ”Tirta Mumbul Sari” ini biasanya digunakan umat Hindu dalam tahapan pertama mereka beribadah, sebelum ke tempat suci Melanting, dan Pura Gunung Pangsung yang letaknya lebih tinggi.
Meski sepanjang pendakian sudah tersedia undak-undak (tangga) dari batu dan plesteran semen, untuk mencapai puncak Gunung Pengsong ternyata bukan hal mudah bagi yang tidak biasa mendaki.
Namun setelah mencapai puncak, rasa lelah akan terobati dengan panorama indah yang bisa dinikmati. Bangunan Pura Gunung Pangsung nampak anggun dengan relief-relief uniknya. Bangunan Pura terlihat bersih terawat, meskipun sudah berusia ratusan tahun.
Dari puncak ini, pemandangan persawahan dan pemukiman hingga perairan teluk Lembar, bisa terlihat di sisi Selatan. Ke arah Timur, puncak Gnung Rinjani bisa terlihat jika cuaca sedang cerah, begitupun ke arah Barat, pesona Gunung Agung di Bali tak luput dari pandangan.
Menurut Pemangku Pura Gunung Pangsung, Jero Mangku Semadiyatna, Pura ini berdiri sekitar tahun 1514 oleh Ida Betara Wayan Sebali, seorang pandita Hindu dari Geria Pendem, Karangasem, Bali. ”Kalau dari sisi sejarah, Pura ini merupakan yang paling tua di Lombok,” katanya.
Hingga kini, umat Hindu yang ngaturang atau beribadah di tempat suci ini bukan hanya datang dari Lombok, tetapi juga dari Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Ada yang unik saat beribadah di Pura ini. Umat yang datang membawa banten untuk ngaturang harus jeli jika tak ingin direbut kawanan monyet, sebelum dipersembahkan.
”Makanya kami diberi ketapel karet ini. Untuk menakut-nakuti monyet,” kata I Nyoman Gatra, yang beribadah di Pura Gunung Pangsung. Nyoman mengantarkan Pamannya, I Wayan Ngarba, dari Bangli, Bali, yang saat itu ngaturang di Pura Gunung Pangsung.
Tapi jangan khawatir. Sebab, ketapel yang digunakan tersebut tanpa batu, sehingga tidak menyakiti monyet-monyet yang lucu itu. Hanya dengan suara hentakan karetnya, monyet pasti menghindar.(pnugraha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar