Jumat, 04 November 2011

Mungkinkah Pantai Ampenan Bisa Seperti Pantai Losari?

Mencoba membandingkan Pantai Ampenan, Kota Mataram, Provinsi NTB, dan Pantai Losari, Kota Makasar, Provinsi Sulawesi Selatan, tentu perbedaannya bagaikan bumi dan langit. Namun ada satu hal yang menjadi persamaan, keduanya sama-sama persis berada di jantung kota, dan memiliki sejarah panjang sebagai pelabuhan yang ikut mewarnai haru-birunya perkembangan kota masing-masing.

Ampenan sendiri, kini merupakan salah satu wilayah kecamatan yang ada di Kota Mataram, dimana dahulu merupakan pusat kota di Pulau Lombok, yang sebelah baratnya langsung berbatasan dengan Selat Lombok.
Di Ampenan, terdapat berbagai peninggalan kota tua yang bersejarah, mengingat di masa lampau daerah ini merupakan pelabuhan utama di Lombok. Juga banyak warga dari berbagai suku di Indonesia yang mendiami wilayah ini, seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Banjar, Kampung Bugis, Kampung Bali dan lainnya. Alhasil, masyarakatnya otomatis juga bersifat heterogen.
Sementara Pantai Losari, Makasar, Sulawesi Selatan, menjadi bagian yang menyatu dan tak terpisahkan dengan suasana Kota Makasar, membentang sejauh kurang lebih 4 kilometer utara-selatan. Pantai ini, bahkan bisa langsung di akses dari jalan protokol, dimana seberang jalan nampak terlihat berbagai bangunan hotel-hotel megah seperti Hotel Losari Beach, MGM, Aryadutta, Quality dan lainnya.
Mulai dari sore hari hingga malamnya, banyak masyarakat yang datang ke Pantai Losari untuk duduk-duduk, berolahraga, atau bahkan mencari makanan di warung-warung yang banyak tersebar sepanjang pantai. Bahkan Pemerintah Provinsi setempat juga telah menggagas pembangunan satu kawasan ruang publik untuk mengembalikan “Landmark Kota Makassar”, dimana dalam kawasan itu telah dibangun berbagai sarana publik seperti pusat perbelanjaan, hotel-hotel berbintang, aula pertemuan, balai rakyat, bahkan disneyland.
“Karenanya, tak heran kalau Makasar sekarang ini dikatakan sebagai pusat Indonesia di kawasan timur,” ujar Drs Su’ud Sayuti, pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Gomong Raya College-Mataram, yang berkesempatan mengikuti Lokakarya Pengembangan Budaya Baca Melalui Taman Bacaan Masyarakat di Makassar, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.
Terakhir berkunjung ke Makasar 17 tahun silam menurut Su’ud, Pantai Losari masih sama persis seperti Pantai Ampenan sekarang. Namun kini sudah menjelma jadi kota metropolitan baru, dengan segala fasilitas publik bisa dijumpai disana.
“Belasan tahun lalu, Pantai Losari ini masih sama dengan Pantai Ampenan, memiliki tanggul di pinggiran pantai, serta warung-warung disekitarnya. Tapi sekarang, luar biasa, setelah direklamasi oleh pemerintah setempat hampir sepanjang 16 kilometer ke arah lautan, serta dibangun berbagai sarana kebutuhan publik, kini Kota Makasar menjadi lebih hidup dan berkembang sebagai Kota Metropolitan, hampir seperti Surabaya ramainya,” ujar Su’ud terkagum-kagum.
Lantas, mungkinkah perkembangan Pantai Ampenan ini bisa mengikuti kemajuan seperti yang telah diraih Pantai Losari? “Kenapa tidak,” sahut Su’ud yakin.
“Kalau memang ada kemauan dan niat, serta partisipasi seluruh elemen masyarakat NTB, terutama pemangku kebijakan pemerintah, bukan 17 tahun seperti Pantai Losari untuk merubahnya. Tetapi dalam waktu 10 tahun saja, Pantai Ampenan ini sudah bisa berubah dan menjadi Landmark Kota Mataram,” sambung Su’ud.
Syaratnya, tentu saja seluruh elemen warga NTB dimanapun berada, baik yang di daerah maupun di pusat, serta dari kalangan apapun, sama-sama berjuang untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, inisiator tentu saja dari pimpinan pemerintah daerah.
“Bagi yang memiliki akses dengan pengusaha, silahkan melobi rekan-rekan pengusaha agar mau menginvestasikan modalnya. Sementara yang punya akses dengan pejabat pemerintah pusat, juga berbuat hal yang sama. Begitupun yang di daerah, mau menciptakan suasana kondusif, agar para investor tak takut untuk dating dan menanamkan modalnya di Lombok. Intinya, mari kita berjuang bersama-sama,” imbau Suud.
Sementara Walikota Mataram, H Ahyar Abduh, yang diminta komentarnya terkait wacana menghidupkan kembali Pelabuhan Ampenan menyatakan, bahwa hal itu jauh hari telah diusahakan pihak Pemerintah Kota Mataram. Dimana salah satu upaya yang dilakukan yakni telah melakukan survey untuk kelayakan untuk dijadikan sebagai pelabuhan barang dan wisata.
“Beberapa tahun lalu kami juga telah mengajukan ke Menteri Kelautan dan Perikanan RI dan juga Menteri Perhubungan RI, agar diberikan ijin dan juga anggaran untuk memfungsikan kembali Pelabuhan Ampenan. Hanya saja belum ada jawaban. Yang pasti, kami tetap akan berusaha sekuat kemampuan untuk menghidupakan kembali Pelabuhan Ampenan, mengingat hal ini bisa menjadi multi effect untuk menghidupkan perekonomian rakyat sekitarnya,” ujarnya.(sslelono)

1 komentar:

  1. bisa saja kayaknya git. tergantung bagaimana pihak pemerintah dan masyarakat bisa bekerjasama ....

    kadang saya malah menghayal, apa ndak bisa ampenan itu dengan beberapa art deco-nya yang masih ada, sekali waktu dibuat event Ampenan Tempo doeloe ... tu, kayak malang tempo doeloe, tiap tahun ada. dan bagus ... ramai banget ... itukan plus juga buat daerah ...

    BalasHapus