Selasa, 29 November 2011

Setiap Tahun Warga Tiga Gili Gelar Tradisi Rebo Bontong


Bagi masyarakat Pulau Lombok, tak terkecuali warga Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, tradisi Rebo Bontong, atau ritual mandi di pantai pada hari Rabu terakhir bulan Sapar (kalender Islam), untuk memohon keselamatan kepada Tuhan, dan dijauhkan dari segala bencana, maupun penyakit, bukan hal yang asing lagi.

Tradisi lokal kebanggaan warga Lombok Utara, yang merupakan warisan nenek moyang ini tiap tahun lokasi penyelenggaraannya dilakukan secara bergiliran di tiga gili yang ada (Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air).
Sebagai asset dan kekayaan budaya yang bisa menunjang sector kepariwisataan, dukungan penuh untuk kegiatan tersebut tentu diberikan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, dan juga Pemerintah Provinsi NTB, selain tentu saja dihadiri oleh ribuan warga masyarakat setempat.
Acara Rebo Bontong ini tak hanya diikuti oleh warga lokal saja, tetapi para wisatawan mancanegara juga sering ikut terlibat aktif. Bahkan diantara pembawa Sesangi, atau tempat untuk membawa hasil bumi yang nantinya akan dihanyutkan ke laut, biasanya ada saja wisatawan asing yang menyatakan minatnya untuk ikut serta.
Hal ini sekaligus menunjukkan, kalau masyarakat Lombok Utara bisa menjadi tuan rumah yang baik, ramah tamah, sopan santun, dan pandai menghargai tamu yang datang.
Kebersamaan ini, menjadi modal utama bagi pemerintah Lombok Utara, agar kedepan bisa memacu pembangunan di segala sektor, khususnya pembangunan berbagai infrastruktur, dan fasilitas publik di obyek-obyek wisata yang ada, demi kenyamanan wisatawan yang datang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Drs HL Gita Aryadi, M.Si, mengatakan, pihaknya sangat mendukung sekali berbagai program kepariwisataan yang kini sedang di rancang Pemerintah Kabupaten Lombok Utara. Karena apapun yang dikerjakan selama itu terkait pembangunan kepariwisataan, akan sangat menunjang program pemerintah Provinsi NTB, Visit Lombok Sumbawa 2012, yakni mendatangkan kunjungan satu juta wisatawan ke NTB pada 2012 mendatang.
Sementara menurut Ibrahim, salah seorang tokoh masyarakat Desa Gili Air, prosesi Rebo Bontong, atau Mandi Sapar di Desa Gili Indah, biasanya diawali dengan menjemput Sesangi  di kantor dusun, dimana kegiatan itu berlangsung. Kemudian Sesangi tersebut dibawa dan di arak menuju lokasi pinggir pantai yang telah ditetapkan sebagai pusat berlangsungnya kegiatan.
Menurut kepercayaan orang tua, atau tokoh adat setempat, dahulu, tepatnya di jaman Nabi Muhammad SAW, beliau meminta dan menyarankan kepada para sahabat dan pengikutnya untuk pergi hijrah, atau keluar rumah mengerjakan ibadah, serta memperbanyak amal kebaikan.
Salah satunya yakni memohon doa penolak bencana, karena diyakini, pada Rebo Bontong, atau sering disebut juga dengan Mandi Sapar, Tuhan akan menurunkan 700 macam penyakit.
Mandi Sapar juga dirangkai dengan pembacaan 7 jenis do’a yang di ambil dari kitab suci Al Qur’an. “Sebelum melaksanakan ritual ini, badan harus disucikan terlebih dahulu dengan cara mandi di sungai atau di laut. Bahkan biasanya sebelum ritual ini dilakukan, dianjurkan untuk berpuasa,“ tutur  Ibrahim.
Pada hari yang ditentukan, masyarakat bersama para tokoh agama, tokoh adat, dan semua undangan  berkumpul di tempat yang telah ditentukan, membaca zikir barzanji, atau do’a bersama, untuk kemudian dilanjutkan makan bersama. Dan terakhir, yakni melarung  Sesangi yang berisikan beras ketan, telur, pisang dan hasil bumi lainnya ke laut.
“Menurut filosofi, Sesangi ini melambangkan bentuk permohonan atau doa kepada Tuhan, agar penyakit, serta bencana yang bersumber dari laut tidak timbul. Intinya, memohon do’a  kepada Tuhan agar alam beserta isinya terhindar dari semua musibah dan juga bencana,” ujar Ibrahim.
Salah seorang tokoh masyarakat Dusun Gili Trawangan, Zaenudin, mengatakan, ritual Mandi Sapar ini mulai dilaksanakan sekitar tahun 1996 lalu, atas usulan dari Waq Rukding, salah satu sesepuh adat Desa Gili Indah.
“Kemudian tahun 2006, masyarakat setempat sepakat untuk menggelar tradisi Rebo Bontong ini secara rutin setahun sekali di tiga gili secara bergiliran, sesuai kesepakatan bersama,” pungkasnya.(sslelono)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar